Hari Jumat Pukul 2 siang menjelang pintu tol Tebet, Jakarta Selatan.  Siang itu Kang Bejo menuju kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Dia sudah janji menerima tamu pukul 3 siang. Dengan asumsi bahwa hari ini dan waktu itu lalu lintasnya tidak padat, maka perhitungan Kang Bejo adalah sejam sampai di kantornya.

Dering telepon seluler membuyarkan kekhusukan sholat Kang Bejo. Saat itu, dia sedang menunggu telepon dari sekretaris direktur sebuah BUMN yang akan mengabari kapan dan dimana pertemuan dengan direktur akan dilaksanakan.

Di Counter Snack, Lantai Dasar Gedung Artaloka, Jakarta.  Sambil menunggu kembalian pembelian snack, Kang Bejo melihat aneka buku dan majalah yang dipajang di rak di samping depan. Ada sebuah buku agama yang menarik hatinya. Kang Bejo berniat membelinya. Dia bolak-balik buku itu untuk lebih memastikan bahwa isinya memang layak untuk dibaca.

Siang itu Kang Bejo mengantarkan jenazah ke kuburan di Jalan Casablanka Jakarta Selatan.  Di jalan antara dua blok pemakaman ada seorang laki tua yang mendorong gerobak minuman dalam kemasan. Kang Bejo membeli sebotol minuman dan dengan cepat menengguknya hingga habis.  Setelah membayar, Kang Bejo merasakan ada pikiran yang mengusiknya ihwal rejeki. 

Di depan rumah Kang Bejo ada sebidang tanah yang cukup luas. Di dalamnya terdapat pohon mangga yang besar. Hampir setiap hari beberapa gerobak pemulung parkir di bawah pohon tersebut. Para pemulung kemudian meninggalkan gerobak-gerobak tersebut.

Kang Bejo hari itu ada meeting di Yogyakarta, berangkat dengan pesawat pukul 6 pagi. Dari rumahnya ke bandara Soekarno-Hatta memerlukan waktu 2 hingga 2.5 jam, sehingga Kang Bejo sudah harus bangun pukul 3 dini hari.